Tidak pernah aku menyangka, kalau aku dan keluarga akan berada ditempat ini lagi. Tidur di ruang terbuka berkasur keramik yang super dingin, selimutpun masih kurang untuk kami mendapatkan kehangatan. Tapi, kami semua rela melakukannya, semua demi Mamah.... apa yang kami rasakan diluar, tak sebanding dengan apa yang mama rasakan didalam ruang HCU. Diluar kami berusaha mendapatkan kehangatan, tapi didalam mamah berjuang mempertahankan hidupnya!
Sore, 21 Juni 2011
Kondisi mama di ruwat kian memburuk, dari kemarin mama nggak sadarkan diri. Kami yang sangat awam dengan dunia kedokteran, awalnya mengira kalau mama sedang tidur, karena sehair sebelumnya, mama nggak bisa tidur. Tapi ketika mama dibangunkan, mama tetap tidak mau bangun, kemudian suster bilang, mama sudah ngga sadarkan diri. Deg! ini benar-benar mengejutkan, terutama untukku. berbagai pikiran muncul dalam otakku. Aku langung teringat dengan ibunda temanku, yang kebetulan dirawat di Rumah Sakit yang sama dan keadaannya hampir sama dengan apa yang mama alami sekarang. Beliau akhirnya meninggal setelah semalaman tidak sadarkan diri. Berbagai pikiran dan dugaanpun datang, Ya Alloh, akankah mama seperti ibunda temanku ? Jangan Ya Alloh, aku mohon jangan ambil mama dulu... ='(
Dokter datang dengan salah satu keluargaku yang kebetulan bekerja di rumah sakit itu. Mereka bilang, kondisi mama memburuk, dan harus dipindah ke ICU. Aku bener-bener kaget! Ya Alloh, kenapa harus kembali kesana lagi?? Aku ingin menangis, tapi aku malu banyak orang. Aku harus kuat! Tadinya papa kurang setuju kalau mama dipindah ke ICU, karena pasti keluarga nggak boleh ada yang jenguk.Akhirnya, dipilih solusi kalau mama akan dimasukkan ke ruang HCU. Katanya di HCU, keluarga masih bisa menunggu pasien. Akhirnya, malamnya mama dipindah ke HCU.
Ya Alloh... kembali kesini lagi ?? diruangan terbuka yang sangat dingin...mana bisa tidur ?? dan benar saja, kami kurang bisa tidur, karena malam itu mama membutuhkan tranfusi darah. Sialnya, di bank darah rumah sakit, stok habis. Papa cari ke PMI juga sedang kosong. Astaghfirullah ...
23 Juni 2011
Aku nggak tahu, ada apa denganku hari ini. Pagi, aku masih bisa tertawa lepas dengan tenteku. Tapi entah kenapa aku berpikir, Ya Alloh pagi ini aku bisa tertawa seperti ini, tapi bagiamana dengan sore atau malam nanti? apakah aku akan menangis ?? Pagi itu, aku berangkat kuliah. Sudah ku niatkan dari awal, di kampus aku nggak mau tertawa atau bercanda terlalu lepas. Aku takut akan ada sesuatu yang nantinya akan membuatku menangis. Hari itu, aku juga merasa nggak enak.. aku terus kepikiran mama. Tapi justru yang aku pikirkan adalah hal negatif. Sebenarnya aku juga nggak mau seperti itu, tapi pikiran itu terus-terusan datang. Hingga akhirnya, saat kuliah kosong pukul satu siang. Aku dan teman berencana makan siang. Makananpun sudah kami pesan. Tiba-tiba, tante sms aku. "Lid, kamu kuliah udah selesai?". Perasaanku mulai nggak enak. Aku balas sms'nya "ni lagi istirahat, nanti sore ada kuliah sore". Lalu tante segera membalas smsku, "kamu ngga usah ikut kuliah yang sore ya," Hatiku semakin nggak karuan... Pikiran negatif itu semakin kuat. Ya Alloh..apa yang terjadi??
Sesampainya di rumah sakit, aku terus mencoba menenangkan diri. Kebetulan saat itu gorden runag ICU sedang dibuka, jadi aku langsung melihat kondisi mama dari balik kaca. Ya Alloh... aku nggak tega lihat keadaan mama... T_T
Tante bilang padaku, kalau keadaan mama kian memburuk, detak jantungnya semakin melemah. Bagai disambar petir! ini nggak mungkin!! Ya Alloh, kenapa aku harus dengar kabar seperti ini ??? Aku sedih dengan ini semua, tapi aku harus bisa tahan emosiku, aku nggak boleh nangis! Aku harus terus berpikiran positif. Mama pasti SEMBUH!!
Tak berapa lama, kakakku datang. Tante juga berusaha menjelaskan keadaan mama. Aku yakin perasaan kakakku nggak jauh beda denganku, Sedih! Akhirnya, aku dan kakakku pergi sholat dzuhur. Dengan segenap hati, aku meminta kepada Alloh. Ya Alloh tolong sembuhkan mama... Aku sayang mama... Aku janji aku akan menebus semua kesalahanku pada mama... Aku mohon ya Alloh, tolong berilah mukjizatmu untuk mama.
Sore itu, perawat mengijinkan kami untuk masuk menjenguk mama di ruang HCU. Yang pertama adalah kakakku. Aku melihat dari balik kaca, pertama kalinya aku melihat kakakku menangis. Aku benar-benar nggak bisa menahan emosiku, air matakupun mulai jatuh. Sahabatku yang saat itu menemaniku, berusaha untuk menenangkanku. Hingga giliranku menjenguk mama tiba. Disitulah aku sama sekali nggak kuat melihat kondisi mama. Aku memeluk tante. Aku menangis dipelukannya. Tante berusaha menguatkan aku. Akupun masuk ke ruangan mama. Masih dengan air mata, aku mulai membisikkan kata "Allah" ke telinga mama. Saat itu aku benar-benar berharap ada keajaiban untuk mama. Sampai keluar ruanganpun aku masih tidak bisa menahan air mata ini. Sahabatku yang menunggu diluar, segera memelukku. Aku benar-benar nggak tahan dengan ini semua! Aku nggak tega melihat mama seperti itu!!!
Saat hati ini mulai tenang, aku dan sahabatku pergi solat ashar. Doa yang kupanjatkan masih sama, aku hanya mohon kesembuhan mama.
Selesai sholat, aku dan sahabatku kembali ke ruang tunggu ICU untuk menenangkan diri sebentar. Tapi tak lama, aku lihat tante dan omku yang di Jakarta datang, dan mereka langsung menuju ruang HCU. Tak lama, kamipun menyusul mereka.
Waktu aku dan sahabatku samapi di ruang HCU, aku lihat kedua tanteku sudah masuk ke ruangan mama. Sepertinya merekapun melakukan hal yang sama, membisikkan nama Allah...
Tapi tak berselang lama, keadaan diruang rawat mama jadi panik. Salah satu keluarga yang kebetulan kerja disana, pergi keluar ruangan dan memanngil perawat. Ya Allah ini ada apa ?? Aku bertanya pada sahabatku, diapun tak mengerti. Aku coba perhatikan layar denyut jantung, tapi tetap saja tidak jelas. Aku kembai bertanya pada sahabatku "mama nggak apa-apa kan lu??? iya kan??", sahabatku hanya bisa mengiyakan pertanyaanku, tapi itau sama sekali nggak bisa membuat aku tenang!
Tak berapa lama, papa datang dan segera masuk ke ruangan mama. Aku yang melihat dari balik kacapun, tak tahu apa yang mereka lakukan didalam. Saat itu, aku pasrah . . . Aku nggak tahu apa kehendak Tuhan untuk mama.
Kemudian papa keluar dan menghampiri keluarga yang ada disana. Posisiku memang agak jauh dari keluarga yang datang. Saat itu aku dengan papa bilang "Alhamdulillah", tentu aku mengira ada keajaiban untuk mama, atau mungkin mama sudah sadar. Tapi kemudian, papa mengucapkan "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un" . . . .
Sahabat, tanpa ku jelaskanpun aku rasa kaliah sudah tahu bagaimana perasaanku saat itu. Sahabat, sekarang aku sudah tidak punya mama. . . dan sampai kapanpun aku tidak bisa bertemu dengannya. Ramadhan dan puasa kali ini, juga seterusnya, hanya ada aku, papa dan mamas. Hari-hairku kini tanpa mama... Tak ada lagi beliau yang setiap hari memarahiku, tak bisa lagi kudengar teriakannya ketika membangunkanku, tak ada lagi orang yang bisa aku minta pendapatnya, tak ada lagi Mama . . .
Ya Allah... aku percaya ini jalan terbaik dariMu. Sayangmu pada mama, melebihi sayangku dan keluarga. Kau tak mau mama menderita terlalu lama dengan penyakitnya, hingga Kau mengambil mama lebih dulu.
Ya Allah... Ampunilah semua dosa mama, terimalah segala amalan-amalannya, lapangkanlah kuburnya, tempatkanlah ia di Surgamu ya Allah . . .
Amin....
-AHMS-

0 komentar:
Posting Komentar